Perjalanan perusahaan rokok Bentoel di Indonesia mencerminkan ambisi dan transformasi dalam industri tembakau yang sangat kompetitif. Didirikan pada tahun 1930-an, Bentoel telah melalui banyak perubahan dan tantangan sebelum menjadi salah satu nama besar dalam sektor ini.
Pendiri Bentoel, Ong Hok Liong, memulai mimpinya dengan mendirikan pabrik kecil di Malang yang awalnya dikenal sebagai Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong. Dengan dukungan rekan-rekannya, dia berhasil memproduksi berbagai jenis rokok yang kemudian dikenal luas.
Dari satu mimpi yang menginspirasi, Bentoel mulai berkembang secara signifikan. Konsep dan inovasi yang diperkenalkan oleh Ong telah membentuk dasar dari kesuksesan yang kini dinikmati oleh perusahaan tersebut.
Pendiri dan Awal Mula Perusahaan Rokok Bentoel
Ong Hok Liong lahir di Bojonegoro pada 12 Agustus 1893 dan mendirikan pabrik rokok di awal 1930-an. Dengan dedikasi dan kerja keras, ia berhasil mengubah mimpinya menjadi kenyataan, dan menghasilkan produk-produk yang disukai masyarakat.
Pabrik tersebut awalnya dinamai Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong, sebelum akhirnya berganti menjadi Hien An Kongsie. Pada masa itu, produk rokok seperti cap Burung, Klabang, dan Djeroek Manis menjadi sangat populer di kalangan para perokok.
Sejarah mencatat bahwa pada 1950-an, Ong menerima sebuah mimpi yang mengubah nama perusahaannya. Mimpi ini berfokus pada ubi talas, yang menjadi inspirasi bagi nama Bentoel yang diambil dari istilah Jawa untuk talas.
Transformasi Nama dan Pertumbuhan Perusahaan
Nama Bentoel mulai digunakan pada tahun 1954 dan menandai langkah awal perusahaan dalam ekspansi bisnis yang lebih luas. Perusahaan ini tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga membuat iklan yang menarik bagi konsumen pada zamannya.
Slogan “Memang betul merokok tjap Bentoel” menjadi terkenal di kalangan masyarakat, membantu perusahaan membranding dirinya dengan lebih baik. Pertumbuhan karyawan yang pesat menunjukkan bagaimana Bentoel mampu menarik minat dan menciptakan lapangan kerja.
Namun, kesuksesan ini tidak berlangsung lama. Pada 1980-an, perusahaan menghadapi masalah keuangan yang serius. Utang yang menumpuk menjadi tantangan besar yang mengharuskan pemiliknya untuk mengambil keputusan sulit demi kelangsungan perusahaan.
Kesulitan Keuangan dan Perubahan Kepemilikan
Pada puncak kesulitan keuangan, Bentoel terlilit utang besar yang mencapai angka US$ 350 juta. Kondisi ini mengakibatkan keluarga Ong Hok Liong terpaksa melepas sebagian besar sahamnya demi menyelamatkan perusahaan.
Upaya untuk membeli saham oleh Tommy Soeharto tidak berhasil, dan Bentoel akhirnya jatuh ke tangan Peter Sondakh melalui Rajawali Group. Akibatnya, perusahaan mendapatkan suntikan dana yang diperlukan untuk beroperasi kembali.
Pada tahun 1997, aset perusahaan dialihkan ke PT Bentoel Prima, menandai babak baru dan pengorganisasian ulang dari entitas yang ada. Langkah ini penting untuk merestrukturisasi dan mengatasi masalah yang ada sebelumnya.
Perkembangan dan Kepemilikan Saat Ini
Dari masa transisi itu, Bentoel terus berkembang dan berevolusi untuk menghadapi tantangan baru di pasar. Pada tahun 2000, perubahan nama menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk menjadi penanda baru untuk kesuksesan yang lebih besar.
Kini, perusahaan tersebut sebagian besar dimiliki oleh British American Tobacco (BAT), yang menguasai 92,48% sahamnya. Ini menunjukkan ketergantungan Bentoel terhadap investasi asing untuk melanjutkan operasional dan pengembangan bisnisnya.
Meskipun telah melalui banyak liku-liku, Bentoel tetap menjadi salah satu pemain kunci dalam industri rokok Indonesia. Kesadaran akan tanggung jawab sosial dan keberlanjutan kini menjadi fokus baru bagi perusahaan dalam menghadapi tantangan modern.